• 18 April 2021 6:17 pm

Website Resmi

#Ayo Ke Cirebon Kota Dengan Sejuta Cerita

C I R E B O N

  • Home
  • C I R E B O N

Cerita rakyat ihwal asal usul Cirebon sudah banyak  dibicarakan orang dengan beragam versi. Namun diantara kesemuanya, ada kesamaan bahasan, yaitu bahwa masyarakat Cirebon sudah majemuk dari sejak awal, baik secara sosial maupun kultural. Diantara yang berkembang di masyarakat, cerita rakyat tentang asal usul Cirebon yang ditulis oleh Masduki Sarpin dalam tajuk Kisah Masyarakat Cirebon : Pengembaraan Putra Padjadjaran Pangeran Walangsungsang yang dimuat Harian Pikiran Rakyat Edisi Cirebon beberapa tahun silam menarik untuk disimak. Tulisannya adalah sebagai berikut.

Dikisahkan, dari perkawinan Prabu Siliwangi dengan Nyi Mas Rara Subangkranjang dikaruniai dua orang anak, masing-masing bernama Pangeran Walangsungsang dan Nyi Mas Rarasantang. Sementara dari perkawinan dengan  Nyi Mas Rara Tajar Yakti, Prabu Siliwangi juga punya keturunan yang diberi nama Pangeran Kiansantang.

Pangeran Walangsungsang dan Nyi Mas Rarasantang semenjak kecil diajari ajaran Islam oleh kakek gurunya Syekh Quro. Sebaliknya, sedari kecil Pangeran Kiansantang dididik oleh kakeknya sendiri Ki Hajar Yakti supaya membenci agama Islam.

Setelah empat tahun Prabu Siliwangi dan rakyat negeri Pajajaran memeluk agama Islam para sesepuh-sesepuh negeri yang tidak senang terhadap berkembangnya agama Islam di negeri Pajajaran mulai merongrong Prabu Siliwangi supaya tidak memeluknya. Awalnya rongrongan-rongrongan itu dapat dielakan. Setelah Ki Majalaku, yang juga penasehat negerinya, memberi saran supaya sang Prabu menanggalkan agama Islam dan kembali ke agama leluhurnya, jugar akyat negeri Pajajaran memberi dukungan agar Prabu Siliwangi mengangkat Pangeran Kiansantang sebagai putra mahkota, akhirnya Prabu Siliwangi tidak bisa menolaknya. Prabu Siliwangi berubah pikiran karena Ki Majalaku adalah manusia Sanghyang yang pangandika dan ramalannya tidak pernah sirnahing patah, selalu menjadi kenyataan. Prabu Siliwangi linggihang pata  agamaha wang sulaha jagat kang kawitan.

Pada suatu hari, tanpa terlebih dahulu berunding dengan Nyi Mas Rara Subangkranjang, Prabu Siliwangi mengumumkan kepada rakyatnya, bahwa agama Islam di negeri Pajajaran dibubarkan dan Pangeran Kiansantang diangkat sebagai putra mahkota. Beberapa hari setelah pembubaran agama Islam di negeri Pajajaran Nyi Mas Rara Subangkranjang meninggalkan negeri Pajajaran tanpa memberitahu putra dan putrinya. Kepergiannya bukan karena Pangeran Walangsungsang tidak diangkat sebagai putra mahkota, tetapi karena berkeinginan mendapatkan keturunan yang wujud linggihing tunggal sirnahingkang alaha tan madep miwitaha kang panutaha, ajarannya dapat dianut sampai pada hari kiamat (kelak do’a Nyi Mas Rara Subangkranjang akan terkabul setelah lahir cucunya yang bernama Syarif Hidayatullah).

Sepeninggal Nyi Mas Rara Subangkranjang, Pangeran Walangsungsang dan Nyi Mas Rarasantang tiap waktu selalu dikawal ketat; mereka tidak diperbolehkan keluar dari Keraton dan Prabu Siliwangi tidak mengijinkan  Syekh Quro menengok kedua cucu muridnya itu.

Pada suatu malam Pangeran Walangsungsang mimpi bertemu dengan seorang kakek-kakek yang berpesan agar dia berguru kepada Syekh Datul Kahfi di Gunung Jati. Pada pagi harinya Pangeran Walangsungsang dengan diam-diam dan tanpa memberitahu Nyi Mas Rarasantang meninggalkan Keraton Pajajaran hanya dengan satu tujuan : berguru Kepada Syekh Datul Kahfi di Gunung Jati. Lembah, gunung, hutan dan rawa-rawa dilaluinya, perjalanan Pangeran Walangsungsang mencari pelinggihan Gunung Jati.

Dalam perjalanan Pangeran Walangsungsang bertemu dengan Begawan Danuwarsih. Kepada sang Begawan Pangeran Walangsungsang menceriterakan akan berguru ajaran Islam kepada Syekh Datul Kahfi di Gunung Jati. Begawan Danuwarsih adalah manusia pengagem agama Sanghiyang yang berilmu luhung, weruh sedurunge winarah paningal soroting jalma. Dia mengatakan kepada Pangeran Walangsung bahwa sebenarnya Agama Islam itu akan pesat berkembang di tanah Jawa. Akan tetapi, sekarang belum pada waktunya. Begawan Danuwarsih menyarankannya agar menetap di pondoknya saja untuk sementara, untuk mempelajari ilmu Sanghiyang demi siarnya agama Islam di tanah Jawa. Menurut Begawan Danuwarsih, tanpa mempelajari ajaran nenek moyangnya Pangeran Walangsungsang akan mendapat kesukaran dalam mengislamkan rakyatnya. Pangeran Walangsungsang patuh, dia pun menjadi murid Begawan Danuwarsih,  dan selanjutnya menikah dengan putrinya yang bernama Nyi Mas Endang Geulis.

Dua tahun lamanya Pangeran Walangsungsang berada di pondok Begawan Danuwarsih, hampir seluruh ilmu sang Begawan dapat diwarisinya, hingga Pangeran Walangsungsang menjadi manusia gerharung lampah soroting bumi landep pangocap cukup ilmunya. Setelah dianggap cukup, Pangeran Walangsungsang diijinkan meninggalkan pondok dengan membawa istrinya. Begawan Danuwarsih memberinya pengagem Golok Cabang dan Ali-Ali Ampar, dan memberi nama lain : Pangeran Cakrabuana.

Setelah Nyi Mas Rara Subangkranjang dan Pangeran Walangsungsang meninggalkan Keraton Pajajaran keadaan Nyi Mas Rarasantang sangat bersedih hati. Karena kesedihan yang tak berkesudahan, maka Nyi Mas Rarasantang bertekad mencari Pangeran Walangsungsang di mana saja kakaknya berada.

Setelah membujuk para pengawal akhirnya Nyi Mas Rarasantang dapat keluar keraton dan selanjutnya masuk hutan keluar hutan, lembah, gunung dilaluinya untuk mencari sang kakak. Akan tetapi, karena Nyi Mas Rarasantang adalah wanoja yang lemah, maka dalam perjalanan di tengah hutan belantara jatuh pingsan. Begitu siuman Nyi Mas Rarasantang sudah berada di pondok Nyi Mas Sukati.  Dan kemudian ia pun menceriterakan, bahwa dirinya sedang mencari Pangeran Walangsungsang.

Nyi Mas Sukati mengatakan, seorang wanita seperti Nyi Mas Rarasantang, tidak akan dapat menemukan seseorang di hutan belantara tanpa dibekali ilmu kesaktian. Dia juga menyarankan agar Nyi Mas Rarasantang untuk sementara menetap sebagai murid di pondoknya. Dan sebenarnya Nyi Mas Sukati adalah kakaknya sendiri dari lain ibu.

Dua tahun lamanya Nyi Mas Rarasantang menja-di murid Nyi Mas Sukati. Hampir seluruh ilmu dapat diwarisinya dan kemudian diagemi sebuah Selendang kumayang.

Nyi Mas Sukati adalah wanoja berilmu tinggi, sakti mandraguna, wanita kang sejatining lenggah, maka setelah mendapatkan ilmu dan restunya, Nyi Mas Rara-santang tidak akan menga-lami kesukaran untuk mene-mukan Pangeran Walang-sungsang yang sedang ber-sama istrinya dalam perja-lanan mencari pelinggihan Gunungjati.

Pertemuan kedua putera Prabu Siliwangi itu sangat mengharukan. Setelah menceritakan pengalaman masing-masing, Pangeran Walangsungsang memperkenalkan Nyi Mas Endang Geulis istrinya kepada Nyi Mas Rarasantang. Selanjutnya bersama-sama berangkat ke Gunungjati untuk berguru kepada Syekh Datul Kahfi.

Dalam perjalanan tiba-tiba Pangeran Walangsungsang melihat gerombolan burung bangau di sebuah puncak gunung. Setelah diamati ternyata burung-burung itu penjelmaan manusia-manusia yang memiliki ilmu Sanghiyang. Maka Pengeran Walangsungsang pun mendatangi tempat tersebut. Melihat kedatangan Pangeran Walangsungsang dan Nyi Mas Endang Geulis burung-burung bangau segera berterbangan memasuki sarang mereka di dalam gua. Pangeran Walangsungsang pun mengejar, dan begitu ia sampai di depan gua, gua itu berubah wujud menjadi sebuah istana dengan maha rajanya, yakni Sanghiyang Bangau

Seterusnya Sanghiyang Bangau mengatakan, bahwa sesungguhnya kedua putra dan menantu Prabu  Siliwangi itu adalah cucunya sendiri, karena Sanghiyang Bangau dan para Sanghiyang lainnya yang berada di istana ini adalah leluhur negeri Pajajaran yang sudah meninggalkan alam dunia (merad). Dengan rendah hati Pangeran Walangsungsang, Nyi Mas Rarasantang dan Nyi Mas Endang Geulis memohon maaf atas kelancangan mereka, juga meminta petunjuk arah Gunung Jati tempat bermukim Syekh Datul Kahfi.

Diceriterakan oleh Sanghiyang Bangau, bahwa sebenarnya ajaran Islam akan berkembang dengan pesat di tanah Jawa melalui Pangeran Walangsungsang. Namun Pangeran Walangsungsang harus terlebih dahulu mempelajari ajaran nenek moyangnya, yaitu pangegem Sanghiyang, karena tanpa ajaran itu, Pangeran Walangsungsang akan mendapat  banyak kesukaran dalam mengembangkan agama Islam.

Setelah Sanghiyang Bangau memberikan wejangan dan memberi ilmu pengagem Sanghiyang, akhirnya Pangeran Walangsungsang dianugerahi pusaka Kelambi Waring dan Batok Badong.

Kedatangan Pangeran Walangsungsang, Nyi Mas Rarasantang dan Nyi Mas Endang Geulis di Gunungjati disambut hangat Syekh Quro’ dan kakeknya, Ki Jumajan Jati (Ki Ageng Tapa). Sekian tahun lamanya Pangeran Walangsungsang, Nyi Mas Rarasantang dan Nyi Mas Endang Geulis di Gunung Jati, sehingga ketiganya benar-benar sempurna dalam mendalami ajaran Islam dan mendapatkan gelar waliyullah.

Windi kersa pangandikaha sejarah, setelah datang pada waktunya, Pangeran Walangsung diperintahkan Syekh Datul Kahfi supaya membuka hutan di sebelah Selatan Gunungjati untuk dijadikan pedukuhan. Wilihang jalatama sujud rantanaha kang paningalh desa. Pangeran Walangsungsang dengan golok cabangnya dengan mudah dapat membuka hutan. Sedang asyik membabat hutan belantara yang berawa-rawa angker, singid miwa ahil tiba-tiba Pangeran Walangsungsang dikejutkan oleh sapaan Ki Pangalang-ngalang. Dia mengatakan bahwa dirinya dahulu bekas Temenggung negeri Pajajaran dan karena tidak dapat memenuhi permintaan Prabu Siliwangi, Ki Pangalang-ngalang harus tinggal di dalam hutan ini selamanya. Setelah menceritakan pengalaman masing-masing akhirnya Ki Pangalang-ngalang diislamkan oleh Pangeran Walangsungsang.

Hutan yang lebat itu dibuka dengan jerih payah Pangeran  Walangsungsang. Sekarang sudah menjadi pedukuhan dengan jumlah penduduk sekitar 106 jiwa, yang berasal dari beberapa negeri.

Dalam kehidupan sehari-hari, Pangeran Walangsungsang dan Nyi Mas Rarasantang tidak menunjukkan bahwa mereka adalah putra Raja Pajajaran yang sangat berkuasa. Pangeran Walangsungsang, Nyi Mas Rarasantang dan Nyi Mas Endang Geulis berlaku laiknya rakyat biasa yang sehari-hari bekerja mencari rebon (udang kecil) di laut untuk dibuat terasi yang airnya (ci) dibuat petis dan ampasnya dinamakan Gerage.

Kelezatan trasi dan petis buatan Pangeran Walang-sungsang dikenal ke mana-mana, sehingga mengundang rakyat dari beberapa negeri untuk membelinya. Tidak sedikit diantara para pembeli itu  akhirnya menetap menjadi penduduk pedukuhan, dan dengan perlahan Pangeran Walangsungsang mengislamkan mereka.

Kelezatan petis dan trasi Pangeran Walangsungsang juga sudah dinikmati oleh Prabu Cakraningrat Raja Negeri Galuh. Bahkan sang prabu meminta Pangeran Walangsungsang agar mengirimkannya setiap bulan.

Setiap tahun penghuni pedukuhan bertambah banyak. Untuk memudahkan mereka memeluk agama Islam, Pangeran Walangsungsang berupaya memadukan ajaran agama nenek moyang dengan ajaran Islam. Paduan kedua ajaran itu terkenal dengan nama Ilmu Caruban. Dengan ilmu Caruban itulah nenek moyang kita dahulu merasa tidak dipaksa menjadi pemeluk agama Islam.

Karena penduduk pedukuhan sudah berjumlah lebih dari 1000 jiwa dan berada di wilayah negeri Galuh, maka Prabu Cakraningrat memerintahkan Pangeran Walangsungsang agar memberi nama pedukuhan itu dan mengangkat seorang kuwu. Dengan restu Syekh Datul Kahfi dan wali lainnya pada tanggal 1 Asyura tahun 791 H atau pada tahun 1389 M, pedukuhan itu diberi nama Cirebon yang asalnya dari Cairebon. Selanjutnya pedukuhan itu pun dikenal dengan nama Cirebon.

Saat ini pedukuhan tersebut telah berkembang menjadi kota. Dalam administrasi pemerintahan, Cirebon merupakan 2 nama daerah tingkat II, yakni Kota Cirebon dan Kabupaten Cirebon. Bahkan jika kita melihat pembagian wilayah pembangunan di Jawa Barat, Cirebon merupakan salah satu Wilayah Pembangunan dengan nama “Wilayah Cirebon”. Sementara itu jika mengacu kepada wilayah administrasi di tingkat kecamatan, Cirebon juga dijadikan nama beberapa kecamatan, yakni Kecamatan Cirebon Utara, Cirebon Barat, dan Cirebon Selatan yang semuanya berada di Kabupaten Cirebon.