Bubur lolos sering dibuat pada saat ada yang hamil berusia 8 bulan. Dan bubur lolos yang dibuat untuk kehamilan 8 bulan tersebut adalah untuk acara sedekah bubur lolos. Maksud dibuatnya bubur lolos pada saat ada yang hamil berusia 8 bulan adalah untuk menolak bala, dimana segala rintangan yang dapat menghambat keluarnya bayi dari rahim sang ibu tersingkirkan. Atau dengan kata lain tujuan dibuatnya bubur lolos pada kehamilan bulan ke 8 adalah agar bayi yang ada dalam kandungan tersebut, saat melahirkannya menjadi mudah.

Biasanya bubur lolos untuk acara kehamilan pada bulan ke delapan adalah pada kehamilan pertama. Namun demikian ada juga yang membuatnya untuk kehamilan setelahnya, misalnya kehamilan kedua, ketiga, dan sebagainya. Dalam rangka kehamilan 8 bulan tersebut, bubur lolos yang dibuat dibagikan kepada kerabat dan para tetangga.

Bubur lolos terdiri dari 2 macam. Pertama adalah bubur lolos merah. Bubur lolos merah ini diberi gula merah dan rasanya manis. Kedua adalah bubur lolos putih dan dikasih garam serta sedikit gula pasir dan rasanya gurih. Dan sesungguhnya warna merah pada bubur lolos merah melambangkan amarah nafsu tetapi yang benar. Sedangkan waena putih pada bubur tersebut melambangkan agar perjalanan hidup kita putih dan bersih. Maksudnya suci tanpa dosa.

Dalam bentuknya, bubur lolos lajim terbungkus oleh daun pisang. Dalam hal ini daun pisang yang membungkus bubur lolos dibuat menggulung. Dan biasanya pada daun pisang untuk membungkus bubur lolos diolesi minyak sayur. Maksudnya agar bubur tersebut tudak menempel pada daun pisang pembungkusnya.

Saat ini bubur lolos tidak hanya dibuat pada saat ada yang hamil 8 bulan saja. Bubur lolos juga dibuat untuk kepentingan berdagang. Dan dalam klasifikasi makanan untuk dijual, bubur lolos masuk ke dalam kue-kuean, tepatnya ku-kuean basah. Karena masuk ke dalam kue-kuean basah ini tidak mengherankan, untuk kepentingan berdagang, bubur lolos dijual bersama makanan-makanan basah lainnya. Makanan lainnya itu misalnya cikak, tapel, dan bubur-bubur manis, seperti bubur candil, bubur, lemu, dan bubur pacar.

 

Sumber

  1. A. Wawancara

    Informan       

No. Nama Usia Pekerjaan Alamat Keterangan
1.

 

 

 

2.

 

3.

Masirah

 

 

 

Oom

 

Wahyudi

70

tahun

 

 

57 tahun

50

tahun

Wiraswasta

 

 

 

Pedagang

 

PNS

Blok Siabang, Desa Kaliwulu, Kec. Plered, Kab. Cirebon

Jl. Panjunan No. 136 Kota. Cirebon

Jln. Situgangga No. 22, Kel. Karyamulya, Kec. Kesambi, Kota Cirebon

 

Foto Dengan Informan

(Foto Pribadi)

  1. Buku

Bachtiar, Harsya W.

1981                       “The Religi of Jawa”, Sebuah Pengantar dalam Abangan, Santri, Priyayi dalam

masyarakat Jawa”. Bandung: PT Dunia Pustaka

Budhisantoso, S

1980/1981           “Upacara Tradisional” dalam Wasta Budaya. Nomor 2, Tahun IV, Proyek Media

Kebudayaan Jakarta. Jakarta: Ditjen Kebudayaan Depdikbud

Danandjaja, James

1972                       “Penuntun Cara Pengumpulan Folklore Bagi Pengarsipan”. Jakarta: Diperbanyak

Oleh  Panitia Tahun Buku Internasional 1972.

1973                       “Laporan Seminar Inventarisasi dan Dokumentasi Folklore Indonesiatanggal 28

s/d 31 Mei 1973 (Mimeograf). Jakarta: Panitia Penyelenggara Seminar

Inventarisasi dan Dokumentasi Folklore Indonesia

1988                   “Antropologi Psikologi: Teori, Metode dan Sejarah Perkembangannya”. Jakarta:

Rajawali Pers

1984                  “Folklor Indonesia: Ilmu Gosip, Dongeng, dan lain-lain”. Jakarta: PT Temprint

Kurniadi, Maryono, Dan Kawan-kawan

2006                       “Legenda Cirebon Cerita Tentang asal Usul Tokoh dan Peristiwa”. Cirebon:

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Cirebon

2006                       “Urip Waras Slametan dan Permainan Anak-anak”. Cirebon: Dinas Kebudayaan

dan Pariwisata Kota Cirebon

2008                       “Pengobatan Tradisional Cirebon”. Cirebon: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata

Kota Cirebon

2013                       “Kuliner Tradisional Cirebon”. Cirebon: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota

Cirebon

Foster / Anderson

1986                       “Antropologi Kesehatan”. Jakarta: UI-PRESS

Geertz, Clifford

1983                             “Abangan, Santri, Priyayi Dalam Masyarakat Jawa”. Jakarta: Pustaka Jaya

1964                             “The Religion of Java”. London: The Free Press of Glencoe-Macmillan Ltd

Kentjono, Sjoko

1990                       “Dasar-dasar Linguistik Umum”. Fakultas Sastra Universitas Indonesia

Koentjaraningrat,

1981                       “Beberapa Pokok Antropologi Sosial”. Jakarta: P.T. Dian Rakyat.

1991                    “Metode-Metode Penelitian Masyarakat”. Jakarta: Gramedia

2007                    “Sejarah Teori  Antropologi”. Jakarta: UI-Press

2015                    “Kebudayaan, Mentalitas dan Pembangunan ”. Jogjakarta: Gramedia Pustaka

Utama

2016                    “Pengantar Ilmu Antropologi”. Jogjakarta: Rineka Cipta

Lubis, Nina H.

1998                       “Kehidupan Menak Priangan 1880-1942. Bandung: Pusat Informasi Budaya

Sunda

Sugiarto, Prawiraredja Mohammed

2005                       “Cirebon: Falsafah, Tradisi dan Adat Budaya”. Jakarta: Perum Percetakan

Negara RI

Sugiyono,

2009                       “Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif dan R & D“. Bandung: Alfabeta.

Suparlan, Parsudi,

1993                      “Manusia, Kebudayaan, dan Lingkungannya”. Jakarta: Raja Grafindo Persada

Disusun Oleh: Maryono K., Pamong Budaya Disporbudpar Kota Cirebon Tahun 2020

Mitos Bubur Lolos, Bikin Lancar Pada Saat Melahirkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *