• 30 Oktober 2020 9:37 am

Website Resmi

#Ayo Ke Cirebon Kota Dengan Sejuta Cerita

UPACARA TRADISIONAL NGUPATI KERBAU

Byadmdkokpcirbnkota

Okt 12, 2020

Sebelum dilakukan upacara ini, dibuatlah 7 macam ketupat. Ketujuh ketupat itu adalah ketupat jagoan, ketupat petekan, ketupat tantang angin, ketupat sinta, ketupat kepel, ketupat simbulan yang bentuknya segilima, dan lepet. Dan ketujuh macam ketupat dibuat pada sore hari. Kondisi ini terjadi mengingat pembuatan ketupat cukup memakan waktu dan sebaliknya seperti makanan-makanan yang terbuat dari beras atau ketan ketupat merupakan jenis makanan yang tidak tahan lama. Setelah ketupat-ketupat matang ketupat-ketupat itu dirangkai dengan pengikat daun gebang. Pada masa lalu pohon gebang banyak tumbuh di kawasan Grage City sekarang.

Upacara dimulai dengan pengalungan ketujuh macam ketupat yang telah siap ke semua kerbau yang ada atau dimiliki suatu keluarga tanpa terkecuali. Dengan kata lain semua kerbau baik yang tenaganya akan digunakan untuk membajak sawah atau tidak dan kerbau besar atau kecil dikalungi ketujuh macam ketupat. Mengingat dalam satu kandang terdapat antara lima hingga sepuluh ekor kerbau, maka kerbau yang dikalungi jumlahnya antara lima hingga sepuluh ekor.

Pengalungan dilakukan pada pagi hari saat hari masih gelap atau sekitar pukul tiga atau empat pagi. Pengalungan dilakukan di kandang kerbau biasa dikandangkan oleh pemilik kerbau. Setelah ketupat-ketupat itu mengalungi kerbau itu, kerbau dilepaskan dari kandangnya untuk menuju persawahan. Setelah itu anak-anak atau warga lainnya yang sedang menunggu pelepasan kerbau itu dapat mengejar kerbau itu untuk mengambil ketupat yang melilit leher kerbau. Karena kerbau-kerbau yang dikalungi ketupat ada di sawah maka sawah menjadi arena perburuan ketupat-ketupat itu. Mengingat pelepasan kerbau tersebut pagi sekali itu  biasanya mereka yang menunggu pelepasan kerbau dan mengejar kerbau itu untuk mengambil ketupat adalah para pengembala kerbau.

Sesungguhnya pada bagian pemburuan ketupat ini merupakan bagian yang sangat menarik. Ini dikarenakan pada bagian ini mereka yang berburu ketupat saling berebut pada kerbau yang berlari ke sana kemari. Dan tidak jarang dalam adegan ini menimbulkan ketegangan sekaligus kelucuan selayaknya menonton adu dalam suatu kompetisi permainan (games). Ini dikarenakan banyak pemburu ketupat itu gagal mendapatkan ketupat karena pergerakan kerbau yang kesana kemari itu. Dalam acara ini ketegangan sekaligus kelucuan semakin bertambah ketika kerbau yang dililiti ketupat itu adalah kerbau yang galak. Akan banyak dijumpai adegan-adegan yang membuat gagal para pemburu ketupat untuk mendapatkan ketupatnya hingga dapat membuat orang yang melihatnya semakin tegang sekaligus merasa lucu.

Sementara itu bagi pengembala kerbau yang kerbau-kerbaunya sedang dikalungi ketupat-ketupat itu hampir dipastikan mendapatkan ketupat-ketupat itu. Hal ini dikarenakan kerbau kecil yang relatif mudah untuk diburu ketupatnya, menjadi buruan khusus pengembala kawanan kerbau yang sedang dikalungi ketupat-ketupat itu.

Namun demikian dari kerbau-kerbau yang dikalungi ketupat tidak semua kerbau menjadi buruan anak-anak atau warga lainnya untuk mendapatkan ketupat. Ada pula kerbau yang ketupatnya tidak ada yang memburunya. Biasanya kerbau yang tidak diburu ketupatnya karena anak-anak atau warga lainnya itu sudah tidak berminat untuk mendapatkan ketupat. Ini bisa terjadi karena mereka sudah memiliki banyak ketupat. Dan ketupat-ketupat yang tidak diburu anak-anak atau warga ini akan lepas dengan sendirinya dari kalungan leher kerbau seiring dengan waktu yang terus berjalan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sumber

  1. Wawancara

Informan

No. Nama Usia Pekerjaan Alamat Keterangan
1.             Abdullah 75 tahun Tidak Bekerja Rt. 02 / Rw. 12 Jalan Ki Kasran Kampung Siran-du, Kel. Pegambiran, Kec. Lemahwungkuk, Kota Cirebon Pernah menjadi pengembala kerbau
2.             Oni 51 tahun Wira

swasta

Rt. 04 / Rw. 13 Jalan Pa-wedusan, Kampung Pa-wedusan, Kel. Pegambi-ran, Kec. Lemahwung-kuk, Kota Cirebon

Foto dengan Informan (Foto Pribadi)

  1. Buku

Sugiyono,   “ Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif dan R & D “. Bandung: Alfabeta.

2009

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *