• 30 Oktober 2020 10:04 am

Website Resmi

#Ayo Ke Cirebon Kota Dengan Sejuta Cerita

UPACARA TRADISIONAL BUKA KAKI ATAU SAKA GURU

Byadmdkokpcirbnkota

Okt 12, 2020

Ritual buka kaki atau saka guru adalah tradisi pada masyarakat Cirebon yang sudah dilakukan sejak jaman dahulu. Ritual ini bertujuan untuk meminta ijin pada “ngegegeh “ atau mahkluk halus (makhluk gaib) yang mempunyai atau menempati tanah yang akan didirikan rumah. Minta ijin dilakukan tidak lain untuk mencari keselamatan para penghuni rumah jika rumah itu sudah ditempati. Dan dalam masyarakat yang melaksanakan ritual ini, dalam membangun rumah, tradisi ini pamali jika tidak dilaksanakan.

Sebelum dilakukan ritual, terlebih dahulu dilakukan naktu waktu atau mencari waktu atau mencari hari yang baik bagi saka guru / permulaan pembangunan rumah. Untuk melakukan naktu waktu seseorang yang akan membangun rumah datang pada orang yang “ngarti” untuk menentukan atau mencari hari yang baik bagi saka guru / awal pembangunan rumah. Orang yang ngarti di sini adalah orang yang mengerti perhitungan hari yang didasarkan pada perhitungan hari orang Jawa. Biasanya orang yang ngarti adalah kiai atau orang pintar. Dan setelah diketahui waktu saka guru / permulaan membangun rumah, orang yang akan membangun pulang ke rumah dan merencanakan persiapan melaksanakan ritual buka kaki atau saka guru tersebut.

Sehari sebelum dilaksanakan buka kaki atau saka guru, pembangun rumah mempersiapkan segalanya untuk kepentingan ritual. Sementara itu pada malam hari dimana besoknya akan melaksanakan ritual ini dilakukan lek-lekan (begadang) sampai pagi hari. Lek-lekan ini biasanya dilakukan oleh pembangun rumah beserta anggota keluarga yang lain, handai taulan dan tetangganya. Dan yang melakukan lek-lekan adalah para lelaki.

Ketika tiba saatnya waktu saka guru seperti yang telah ditentukan orang “ngarti”, dilakukanlah pencangkulan tanah pertama kali untuk membuat fondasi rumah. Setelah itu dilanjutkan dengan tahlilan. Tahlilan dilakukan oleh mereka yang terdiri dari orang dan keluarga yang membangun rumah beserta kerabatnya, tetangganya, dan para tukang serta kenek yang akan terlibat pembangunan rumah. Dalam tahlilan ini disebutkan para karuhun atau nenek moyang yang pertama-pertama tinggal di kampung. Dan dalam tahlilan dihidangkan untuk mereka yang tahlil berupa tumpeng beserta ayam jago bekakak utuh kecuali jeroan berupa usus, ati, dan ampela. Biasanya tahlilan ini dilakukan pada jam 7 pagi.

Beberapa Penanaman Ketiga Pohon Pada Ritual Permulaan Pembangunan Rumah

Setelah tahlilan selesai dilakukan serangkaian kegiatan-kegiatan lainnya. Kegiatan- kegiatan itu adalah menanam saka guru 3 macam pohon, membuat rujak 7 rupa, membuat wedang (minuman) 7 rupa, memasang kendi dengan telornya dan menanam telur angsa wurung (gagal). Dalam kegiatan menanam saka guru atau 3 pohon, pohon yang ditanam terdiri dari beringin, pisang klutuk, dan tebu ireng. Khusus untuk pohon beringin, pohon yang ditanam terdiri dari dua macam, yaitu yang berasal dari Keraton Kasepuhan dan yang berasal dari desa setempat yang biasa tertanam di balai desa atau masjid desa. Dan pohon beringin yang akan ditanam itu adalah rantingnya. Sementara itu untuk pisang klutuk dan tebu ireng bebas dari tempat mana saja. Dalam ritual ini pohon beringin dianggap sebagai kekuatan karena rantingnya kuat. Sedangkan pisang klutuk dianggap sebagai sesuatu yang bisa bikin adem dan nyaman. Sementara itu tebu ireng dianggap sebagai sesuatu yang manis.

Dalam menanam saka guru atau ketiga macam pohon ini, ketiganya ditanam di tengah bagian rumah yang akan dibangun. Dan saka guru atau pohon-pohon yang ditanam ini dibiarkan dengan tidak disiram air. Biasanya saka guru ini akan tertanam lama. Karena lamanya tidak jarang pohon-pohon ini tumbuh meninggi atau sebaliknya musnah (mati) dengan sendirinya. Kondisi ini terjadi karena biasanya pembangunan rumah terhenti saat selesainya pembuatan fondasi. Dan waktu penghentian sementara ini bisa berlangsung berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan. Lama singkatnya penghentian ini tergantung dari kondisi keuangan orang yang membangun rumah. Sementara itu jika pohon yang ditanam tetap hidup, ketika pasang bata sebagai awal meneruskan pembangunan rumah, pohon ini dipotong.

Acara menanam saka guru dipimpin oleh orang “ngarti” atau tukang yang mengerti. Pada acara ini dibakarlah kemenyan dalam anglo dengan arang yang membara. Setelah saka guru tertanam, ditempatkanlah rujak 7 rupa, 7 macam wedang, kendi yang berisi air suci dari 7 tempat yang ditutup dengan telor ayam kampung dan anglo lengkap dengan arang dan menyan di bawah saka guru. Macam-macam barang ini dalam menempatkan di bawah saka guru disatukan dalam satu wadah, yakni di tampih atau tampah. Sementara anglo dengan kemenyan yang terbakar tadi, juga ditempatkan di tampah berbarengan dengan rujak, wedang-wedang, dan kendi dengan telornya.

Selain itu dilakukan pula penanaman 2 atau 4 butir telor angsa wurung (telor angsa gagal). Penanaman 2 atau 4 butir telor angsa wurung tersebut tidak ditanam di satu tempat tetapi menyebar ke seluruh bagian rumah yang akan dibuat. Pemasangan telor angsa wurung ini dimaksudkan untuk menangkal orang-orang yang hendak berbuat jahat terhadap penghuni rumah jika rumah sudah ditempati.

Untuk rujak 7 rupa, rujak yang dibuat meliputi sambal dengan 7 macam buah-buahan. Ketujuh macam buah-buahan itu mangga, jambu air, nanas, kedondong, bengkoang, belimbing, dan boled. Namun demikian ada juga rujak yang dibuat lebih sederhana dimana sambalnya hanya gula merah dengan garam. Sementara itu buahnya hanya terdiri dari pisang merucu. Buah-buahan yang disajikan sebagai rujak ini harus teriris-iris ditempatkan dalam gelas.

Untuk 7 macam wedang, wedang yang dibuat misalnya terdiri dari kopi pahit, kopi manis, teh pahit, teh manis, bandrek, bajigur, dan air putih. Ketujuh macam wedang ini ditempatkan terpisah satu sama lain dalam 7 gelas.  Dan pada masing-masing gelas, wedang diisikan setengahnya. Sementara air yang digunakan untuk membuat wedang adalah air-air suci dari beberapa sumber, yakni dari sumur masjid Agung Kasepuhan,  sumur Ketandan, dan sumur Masjid Jagabayan ditambah air dari sumur yang dekat dengan lokasi pembangunan rumah.                 Sumur Masjid Jagabayan

Sedangkan dalam bagian memasang kendi beserta telornya, seperti halnya untuk membuat wedang, air yang digunakan untuk mengisi kendi adalah air-air suci dari beberapa sumber tersebut. Bedanya jika untuk wedang air direbus sedangkan untuk mengisi kendi air tidak direbus. Campuran air-air suci ini kemudian dicampurkan untuk adukan untuk pojok-pojok rumah. Dalam ritual ini kendi dimaksudkan agar pedaringan menjadi kebek (penuh) atau banyak rejeki. Sedangkan telor dalam ritual ini dimaksudkan agar mendapat rejeki terus menerus seperti ayam bertelur.

 

Sumber

  1. Wawancara

Informan

No. Nama Usia Pekerjaan Alamat Keterangan
1.                    Asep 42 tahun Tukang Bangunan Rt. 06 / Rw. 07, Desa Pamengkang, Kec. Mundu, Kab. Cirebon

Foto dengan Informan (Foto Pribadi)

  1. Buku

Sugiyono,   “ Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif dan R & D “. Bandung: Alfabeta.

2009

 

  1. Internet

Kurniadi, Maryono. “Ritual Permulaan Bangun Rumah”. www.disporbudparcirebonkota.go.id 2018.

https://kbbi.web.id

https://www.kompas. Com 12 jan 20

PENULIS: MARYONO KURNIADI, S.IP, M.Si

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *