• 30 Oktober 2020 9:45 am

Website Resmi

#Ayo Ke Cirebon Kota Dengan Sejuta Cerita

RITUAL MENANGKAL HUJAN

Byadmdkokpcirbnkota

Okt 12, 2020

Bentuk ritus ini sering dilakukan pada saat ada perhelatan yang memerlikan cuaca bagus (tidak hujan), seperti ada hajatan, ada pertunjukkan atau ada kunjungan orang penting yang akan dihadiri banyak orang. Tujuan perhelatan dengan cuaca cerah agar acara dikunjungi orang sesuai yang diharapkan atau acara tidak terganggu yang menyebabkan penonton bubar atau pulang. Dan acara ini dikehendaki oleh panitia atau penyelenggara helatan, yakni tuan rumah atau pemilik hajatan, panitia pertunjukkan dan sebagainya.

Acara ini diawali dengan penyelenggara atau panitia helatan mengundang pawang hujan atau orang yang mampu menangkal hujan untuk datang dan melakukan upacara menangkal hujan. Dan pada kesempatan ini diberitahukan waktu dan tempat perhelatan tersebut. Selain itu disepakati dari mana barang-barang yang diperlukan saat upacara nanti. Apakah dari pemilik atau panitia perhelatan atau dari pawang hujan tersebut.

Ketika saatnya perhelatan akan diselenggarakan, datanglah pawang hujan yang terdiri dari tiga orang. Dan pada saat itu juga sudah harus ada perlengkapan upacara yang asalnya sesuai perjanjian sebelumnya, yakni panitia atau pemilik helatan atau pawang hujan. Barang-barang itu terdiri dari 1 gelas dengan air putih penuh di dalamnya, 1 piring, 1 payung hujan,  lilin besar minimal 1 pak (1 pak berisi sepuluh batang lilin), 1 anglo tempat arang beserta arangnya, kembang 7 rupa, diantaranya mawar, melati, kenanga, kantil, ayam bekakak janggar (ayam jago muda), pisang raja 3 sisir, dan air minum 7 rupa. Ketujuh rupa tersebut adalah 1 air putih, 1 kopi pahit, 1 kopi manis, wedang kawoh 2 gelas, dan air berbahan dasar tajin juga 2 gelas.

Dan ketika waktunya tiba untuk mulai acara perhelatan, ketiga orang pawang tadi mulai melakukan tugasnya masing-masing. Pawang pertama, pertama kali yang dilakukan adalah menutup gelas bersi air putih yang penuh dengan piring dan membalikkannya hingga piring ada di bawah. Setelah itu piring diletakkan di meja atau lantai dan di atas gelas yang terbalik tadi ditempatkan 1 batang lilin yang menyala. Orang ini tugasnya mengawasi cuaca dari air yang ada di gelas tadi dan memberitahukan kepada yang lain untuk melakukan sesuatu dengan maksud mengusir mendung. Orang ini berada di dalam rumah atau bangunan dan di ruang khusus yang tidak dapat diganggu oleh orang lain. Pawang kedua tugasnya memegangi payung dan siap menerima perintah orang pertama apakah payung perlu diputar atau tidak. Orang pertama memerintah untuk memutar payung jika melihat air dalam gelas mulai mendung yang ditandai dengan air berwarna hitam. Sedangkan Pawang ketiga tugasnya adalah membakar kemenyan dengan menjaga angglo agar tidak mati dan menaburkan kemenyan ke dalam bara dalam anglo tersebut. Selain itu orang ketiga ini sembari membakar kemenyan dilakukan juga zikir. Berbeda dengan pawang pertama, baik pawang kedua maupun pawang ketiga, dalam melaksanakan tugasnya, keduanya berada di luar rumah.

 

 

 

Sumber

  1. Wawancara

Informan

No. Nama Usia Pekerjaan Alamat Keterangan
1.                    Daya 40 tahun Seniman / Pengobat Alternatif Desa Battembat, Kec. Tengahtani, Kab. Cirebon

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Foto dengan Informan (Foto Pribadi)

  1. Buku

Sugiyono,   “ Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif dan R & D “. Bandung: Alfabeta.

2009

PENULIS: MARYONO KURNIADI, S.IP., M.Si

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *