• 30 Oktober 2020 9:42 am

Website Resmi

#Ayo Ke Cirebon Kota Dengan Sejuta Cerita

KEYAKINAN AKAN KEBERADAAN TOKOH PINANGERAN SELINGSINGAN ARYA SASTRA MIHARJA

Byadmdkokpcirbnkota

Okt 12, 2020

Pada jaman awal Islam masuk ke Cirebon, di sekitar wilayah Kalijaga Kota Cirebon, ada seseorang bernama Selingsingan. Ia putra dari Syech Makeruh seorang penganut Buddha.

Ketika mengijak remaja, Selingsingan tidak menuntut ilmu agama Buddha, tetapi ia memilih pendidikan Islam tepatnya pondok pesantren milik Sunan Kalijaga. Namun demikian, ayahanda Selingsingan, yakni Syech Makeruh, tidak mengharuskan anaknya seperti dirinya beragama Buddha dan membiarkan anaknya menuntut ilmu di perguruan agama Islam. Bahkan ketika Selingsingan masuk Islam, Syech Makeruh ayahandanya itu tidak melarangnya. Dan sesungguhnya karena perbedaan keyakinan dengan orang tuanya inilah yang menyebabkan ia bernama Selingsingan yang artinya bersimpangan. Bersimpangan yang dimaksudkan adalah perbedaan agama antara anak dengan orang tuanya.

Dalam perkembangan selanjutnya karena masuk Islam, oleh Sunan Kalijaga, anak Syech Makeruh diberi nama Pinangeran Selingsingan Arya Sastra Miharja. Nama Arya Sastra Miharja yang diberikan Sunan Kalijaga ini diambil dari nama putra Mbah Kuwu Sangkan atau Putra Pangeran Cakrabuana.

Dalam hidupnya, Pinangeran Selingsingan memelihara seekor menjangan. Berbeda dengan menjangan-menjangan lain, menjangan yang dipelihara Pinangeran Selingsingan pada setiap jum’at kliwon tanduknya murub (menyala).

Untuk mencancang (mengikat) binatang peliharaannya itu biasanya ia lakukan di patok Tugu Dalam. Sedangkan untuk memandikannya, ia lakukan di sungai yang ada di kampungnya, tepatnya di suatu kedung (jeram) yang ada di sungai itu.

Di tempat di sekitar wilayah Kalijaga tersebut, Pinangeran Selingsingan hidup sebagai sultan. Ia tinggal di keraton lengkap dengan penjaga-penjaga dan abdi dalem seperti halnya keraton-keraton lain yang ada di Cirebon, seperti keraton Kasepuhan. Ada lebih dari 40 penjaga keraton yang disebut pamong keraton dan abdi dalem di keraton tersebut. Pamong keraton ini di antaranyaadalah macan. Dan sesungguhnya keraton dimana Pinangeran Selingsingan tinggal mewahnya luar biasa.

Pinangeran Selingsingan sendiri masih ada hingga kini. Selain itu seperti halnya keraton-keraton lain yang ada di Cirebon, keraton Pinangeran Selingsingan masih ada ada. Keratonnya itu terdapat di pertemuan dua sungai yang ada di Kampung Kedung Menjangan yakni sebelah timur Masjid Merah Nurbuat sekarang.

Berbeda dengan keraton-keraton lain yang ada di Cirebon: Keraton Kasepuhan, Keraton Kanoman, dan Keraton Kacirebonan, untuk dapat datang ke keraton Pinangeran Selingsingan dan bertemu dengannya, seseorang harus puasa selama 7 hari 7 malam berturut-turut atau 1 minggu tanpa buka. Dan orang akan dapat melihat keraton sekaligus dapat bertemu dengan Pinangeran Selingsingan pada saat pati geni atau jam dua belas malam di hari ke tujuh puasanya itu.

 

 

 

 

Sumber

  1. Informan
No. Nama Usia Pekerjaan Alamat Keterangan
1.                    Toni 80 tahun Tidak bekerja Kampung Kedung Menjangan, Kel. Kalijaga, Kec. Harjamukti, Kota Cirebon

 

 

 

 

 

 

Foto dengan informan (Foto Pribadi)

 

  1. Buku

Sugiyono,   “ Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif dan R & D “. Bandung: Alfabeta.

2009

Penulis: Maryono K., S.IP, M.Si

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *