• 30 Oktober 2020 10:50 am

Website Resmi

#Ayo Ke Cirebon Kota Dengan Sejuta Cerita

GEBRIG

Byadmdkokpcirbnkota

Okt 12, 2020

Gebrig adalah suatu adat istiadat dimana jika terjadi perkawinan antara anak laki-laki bungsu kawin harus dilakukan upacara khusus dalam perkawinannya. Dalam hal ini jika terjadi perkawinan tersebut harus dilakukan tambahan dalam upacara perkawinannya.

Namun demikian ada juga gebrig tidak dikenakan sebatas pada anak laki-laki bungsu. Ada juga tempat-tempat yang menerapkan adat tersebut secara lebih luas dalam sistem kekerabatannya. Dalam hal ini gebrig juga bisa berlaku jika yang bungsu tidak hanya laki-laki, tetapi juga perempuan. Jadi pada tempat-tempat tertentu gebrig dilakukan jika salah satu mempelainya adalah anak bungsu tanpa memandang apakah ia laki-laki apa ia perempuan.

Bahkan ada juga daerah-daerah yang menetapkan gebrig sebatas pada perkawinan antara seorang yang bungsu dengan seorang yang sulung tanpa memperhatikan jenis kelaminnya. Dengan kondisi ini gebrig dilakukan jika seorang laki-laki bungsu kawin dengan perempuan sulung atau sebaliknya antara perempuan bungsu dengan laki-laki sulung.

Sebenarnya gebrig dilakukan dengan tujuan untuk tolak bala atau buang sial atau dalam bahasa Cirebon buang kebel.

Gebrig dilakukan pada acara pelaminan atau pernikahan. Namun pada beberapa tempat lain gebrig dilakukan pada acara pelamaran atau dilakukan sebelum atau pra acara pernikahan. Acara melamar gebrig biasanya dilakukan antara jam 2 siang hingga jam 4 sore. Dan acara ini dilakukan sehari sebelum acara pernikahan.

Acara gebrig dimulai dengan persiapan membawa barang-barang perkawinan atau lamaran dari pihak laki-laki. Barang-barang perkawinan atau  lamaran itu misalnya perkakas rumah tangga, seperti tempat tidur, lemari, dan sebagainya, alat-alat dapur, seperti panci, wajan, dan sebagainya selayaknya orang melakukan perkawinan atau melamar. Namun demikian yang membedakan perkawinan atau lamaran biasa dengan gebrig adalah dalam gebrig setelah dalam perkawinan atau lamaran diikuti acara lain. Dengan kata lain setelah acara penyambutan kedatangan rombongan pihak laki-laki,  diikuti pula acara lainnya.

Acara lainnya yang menunjukkan adanya gebrig adalah rombongan mempelai laki-laki yang datang ke rumah mempelai perempuan diikuti orang yang membawa gebrig. Orang yang membawa gebrig itu adalah laki-laki dan didandani ala badut dengan muka dibuat cemang cemong dengan menggunakan bedak putih dan lipstik. Sementara itu kepala orang tersebut ditutupi kekeb seperti orang mengenakan topi. Di damping itu kekeb yang dikenakan orang tersebut diatasnya ditaruh lampu trenel (lampu cempor) yang menyala. Selain itu juga ia membawa pedang-pedangan yang terbuat dari kayu. Biasanya mereka yang mempunyai tugas khusus ini adalah pengobeng atau yang membantu hajatan dari keluarga mempelai laki-laki. Dan yang melakukan tugas khusus ini harus laki-laki.

Orang yang membawa gebrig ini adalah orang yang ditunjuk pihak mempelai laki-laki untuk berperan membawa gebrig.

Sementara itu gebrig yang berbentuk seperti kanca (pikulan) yang dibawa di orang kaya badut tadi diberi barang-barang berupa beras yang dimsukkan ke keranjang, padi, tebu, kelapa janur, tangkai beringin dengan daunnya, bumbu-bumbu dapur seperti cabe dan bawang, pisang raja satu tandan, bekakak ayam, kipas, centong, baju, celana, sandal, dan jago (ayam jantan). Namun demikian ada juga tempat yang dibawa dalam gebrig adalah barang-barang hasil bumi yang dihasilkan dari tanah, termasuk sawah, yang dimiliki oleh keluarga mempelai laki-laki, seperti padi, jagung, mentimun, terong, kacang panjang, mangga, sirsak, dan sebagainya. Jika keluarga itu tidak memiliki atau hanya memiliki sedikit tanah, maka untuk barang yang dipikul orang yang mempunyai tugas khusus bisa membelinya.

Acara gebrig dimulai ketika acara penerimaan rombongan mempelai laki-laki oleh tuan rumah pihak perempuan selesai. Pada acara ini muncullah penyambut dari pihak mempelai perempuan untuk menyambut orang yang membawa gebrig dan didandani seperti badut yang berasal dari pihak mempelai lelaki itu. Orang yang menyambut ini juga biasanya orang laki-laki yang membantu hajatan (mengobeng) pada mempelai wanita. Seperti halnya orang yang mendapat tugas khusus, yang menyambut ini juga membawa golok yang juga terbuat dari kayu. Dan seketika itu terjadi perkelahian dengan menggunakan golok kayu antara yang mendapat tugas khusus dari mempelai laki-laki dengan yang mendapat tugas khusus dari pihak mempelai wanita. Karena ini merupakan seremoni, perkelahian ini bukan sesungguhnya. Perkelahian hanyalah sandiwara dengan tujuannya adalah memecah kekeb yang dikenakan dikepala yang mendapat tugas khusus dari mempelai pria. Setelah kekeb pecah perkelahian sandiwara ini berakhir sekaligus mengakhiri acara gebrig.

 

 

 

 

 

Sumber

  1. Wawancara

Informan

No. Nama Usia Pekerjaan Alamat Keterangan
1.

 

 

 

2.

 

 

Casman

 

 

 

Kamandia

 

 

41 Tahun

 

 

55

Tahun

 

Penarik Beca

 

 

Wiraswasta

 

 

Blok Jero Kraton, desa Trusmi Wetan, Kec. Plered, Kab. Cirebon

 

Desa Battembat, Kec. Tengatani, Kab. Cirebon

 

2 x Berperan sebagai pembawa Gebrig

 

 

 

 

Foto-foto dengan Informan (Foto Pribadi)

  1. Buku

Sugiyono,   “ Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif dan R & D “. Bandung: Alfabeta.

2009

Penulis: Maryono K., S.IP.,M.Si

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *