• 30 Oktober 2020 10:03 am

Website Resmi

#Ayo Ke Cirebon Kota Dengan Sejuta Cerita

CERITA ASAL MUASAL KULINER APEM SAPAR

Byadmdkokpcirbnkota

Okt 12, 2020

Pada jaman dulu ketika Islam datang di Cirebon, Islam berkembang sangat pesat. Perkembangan yang pesat ini tidak lain berkat kegiatan-kegiatan penyebaran agama Islam para wali di Cirebon. Perkembangan yang pesat ini bisa terlihat dengan semakin hari semakin banyak saja penganut agama Islam di Cirebon. Karena perkembangan yang pesat ini menjadikan Cirebon sebagai tempat yang banyak penganut Islamnya.

Dalam perkembangan selanjutnya, kesultanan muncul di Cirebon menyusul Islam yang terus berkembang. Seperti halnya perkembangan agama Islam, kekuasaan kesultanan di sini semakin meningkat pula. Untuk agama Islam sendiri, sebelum Masjid Sang Cipta Rasa berdiri, di kesultanan ini Islam dipusatkan di masjid Pejlagrahan yang dibangun tidak jauh dari Keraton.

Dalam perkembangan berikutnya, kemunculan kesultanan Cirebon ini terdengar oleh Raja Majapahit kerajaan yang sangat besar pada masa itu. Kesultanan Cirebon dengan Islamnya yang terus berkembang telah tercium beritanya oleh penguasa kerajaan yang berada di wilayah Jawa Timur ini. Dan perkembangan ini menjadikan Raja Majapahit merasa khawatir kesultanan Cirebon akan menjadi besar dan akan dapat mengalahkan kerajaan Majapahit. Karena kekhawatiran inilah, selanjutnya, raja Majapahit memerintahkan untuk mengirimkan pasukan untuk menaklukkan Cirebon. Selanjutnya karena keputusan yang telah bulat, dikirimkanlah pasukan ke Cirebon. Dalam pengiriman ini, pasukan dibagi dalam beberapa gelombang, yakni gelombang pertama dan selanjutnya.

Setelah melakukan perjalanan dari Jawa Timur ke Cirebon, akhirnya pasukan gelombang pertama tiba di Cirebon. Namun sebelum pasukan Majapahit itu sampai ke keraton kesultanan berkumpullah para wali yang jumlahnya duabelas orang di Masjid Pejlagrahan. Mereka mengadakan rapat di masjid itu membahas bagaimana menghadapi kedatangan pasukan itu. Dari rapat diputuskan untuk melakukan suatu siasat untuk menghalau pasukan Majapahit yang akan menjajah Cirebon. Untuk melaksanakan siasat, Nyi Tua dan Ki Tua dipercaya untuk melakukan tindakan penting dalam menjalankan siasat.

Sepeninggal para wali dari Masjid Pejlagrahan dan ketika pasukan Majapahit tiba di Cirebon, mulailah Nyi Tua dan Ki Tua memulai siasatnya. Mereka berdua membuat kue yang terbuat dari beras di Masjid Pejlagrahan tempat para wali melakukan rapat. Dan ketika pasukan Majapahit tiba di Masjid Pejlagrahan tepat di bulan Safar, Nyi dan Ki Tua mulai melayani para pasukan ini. Dan dalam melayani tamu yang akan menjajah Cirebon itu, Nyi Tua dan Ki Tua menghidangkan kue dari beras yang dibuatnya. Pada saat kue terhidang itulah, para prajurit kemudian mulai menyantapnya. Namun demikian, karena merasa lapar tanpa sadar mereka makan banyak kue itu. Alhasil. Ternyata siasat yang dijalankan Nyi   dan Ki Tua berhasil. Ketika kue yang masuk perut mereka sudah banyak para prajurit Majapahit merasakan perut yang sangat sesak karena kekenyangan makan kue itu. Perut yang sesak ini terjadi karena bahan  kue yang dapat mengembang ketika ada dalam perut.  Karena kekenyangan makan kue yang diberikan Nyi Tua dan Ki Tua ini akhirnya mereka tidak bisa berperang. Mereka hanya disibukan dengan sesaknya perut akibat makan kue itu.

Selanjutnya karena kekenyangan dan tidak bisa berperang bala tentara Kerajaan Majapahit gelombang pertama pulang kembali ke Majapahit. Dalam perjalanan pulang ini di daerah Tegal mereka bertemu dengan pasukan Majapahit gelombang berikutnya yang akan menyusul mereka berperang untuk menaklukkan Kesultanan Cirebon. Dalam pertemuan itu para pasukan gelombang pertama mengatakan untuk tidak usah datang ke Cirebon dan lebih baik pulang kembali ke Majapahit. Menurut mereka lebih lanjut percuma datang ke Cirebon, karena Cirebon sulit dikalahkan. Karena perkataan ini pada akhirnya pasukan gelombang berikutnya juga pulang menuruti apa yang dikatakan pasukan gelombang pertama. Selanjutnya, tempat yang menjadi pertemuan itu sekarang dikenal dengan Balapulang.

Selanjutnya karena kepulangan para pasukan dari Majapahit karena kekenyangan makan kue yang diberikan Nyi Tua dan Ki Tua, perang tidak sampai terjadi. Karena kekenyangan ini Majapahit gagal menjajah Cirebon. Karena merasakan perut yang sesak, Kesultanan di Cirebon tetap merdeka serta tetap tegak berdiri.

Sumber

  1. Wawancara

Informan

No. Nama Usia Pekerjaan Alamat Keterangan
1.                    Sanita 69 Tahun Wiraswasta Gang Perjuangan III Rt. 01/ 07 Kayuwa-lang, Kel. Karyamulya, Kec. Kesambi, Kota Cirebon

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Foto dengan Informan (Foto Pribadi)

  1. Buku

Sugiyono,   “ Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif dan R & D “. Bandung: Alfabeta.

2009

PENULIS: MARYONO KURNIADI, S.IP, M.Si

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *